Jumat, 04 Desember 2009

Suatu Saat Nanti

“Suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan Bapakmu dan keluarga-keluarganya yang pinter mengaji dan rata-rata sekolahnya tinggi. Bagaimana kamu dapat bertemu mereka, apakah tidak malu.??!”.
Demikian kira-kira lontaran kalimat yang sering keluar dari seorang ibu kepada anaknya, Ujang Nana, ketika malas mengaji, malas sekolah, atau malas belajar di rumah. Ibu itu sangat paham dengan apa yang harus dilakukan ketika anaknya malas-malasan. Cukup mengulang kalimat demikian, dan hasilnya Ujang Nana melaksanakan, walaupun dengan langkah gontai. Sering sekali kalimat itu diucapkan terutama, pada pagi hari menjelang sekolah, menjelang adzan shubuh, adzan ashar, dan adzan maghrib, dimana setelah waktu-waktu itu merupakan jadwal Ujang Nana mengaji.
Di benak Ujang Nana, bertemu dengan seorang Bapak merupakan impian yang sangat besar. Bagaimana tidak, sejak usia 4 tahun, Bapaknya telah bercerai dengan Ibunya, dan semenjak perceraian itu, jangan kan kasih sayang Bapak dia peroleh, kabar Bapaknya pun seperti apa dia tidak pernah mengetahuinya. Kakek dan saudara-saudaranya selalu mengatakan bahwa Bapaknya tinggal di Jakarta. Apa daya, barangkali belum ada keberanian, bagi seorang anak sekecil Ujang Nana, yang baru menginjak Sekolah Dasar untuk ke Jakarta. Dia hanya menyimpannya di benak dan selalu ber-angan seperti apa yang dikatakan ibunya ‘Suatu saat nanti, aku akan bertemu dengan Bapak, supaya tidak malu, aku harus pinter -mengaji- dan -sekolah-’.
Ujang Nana terus tumbuh dengan harapan yang sama “suatu saat nanti“. Sekitar usia kelas 2 SLTP, Ujang Nana se-Keluarga berkunjung ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan kakak sepupunya. Keluarganya telah sepakat untuk sekalian mampir ke rumah Bapaknya. Jelas sekali kegembiraan Ujang Nana saat itu, karena harapan “Suatu saat nanti” akan segera menjadi “Sekarang saatnya” bertemu dengan seorang Bapak yang menjadi impiannya.
Sejak malam keberangkatan dan selama perjalanan itu, konsentrasinya terus terpusat tentang “apakah sekarang saatnya.?”. Hatinya dag-dig-dug tidak karuan, ia terus berpikir “bagaimana sikapnya ketika awal ketemu nanti.?”. Dia merasakan kecemasan yang luar biasa, tubuhnya terasa lemas, ada rasa semacam demam dadakan, dan seperti dia belum siap untuk bertemu. Dia mencoba untuk membayangkan sikapnya nanti pada pertemuan itu “mm… mungkin aku hanya berani mencium tangannya, tapi apabila dia memelukku, aku juga akan berani memeluknya, mungkin aku juga akan menangis.. entahlah, yang jelas aku rindu dan aku bahagia..!”, Ujang Nana mencoba membuat skenario.
Namun, apa yang terjadi?, dia tetap harus mengubur kembali harapan itu dan hanya dapat menyimpan angan seperti apa yang dikatakan ibunya ‘Suatu saat nanti…‘.
‘Suatu saat nanti…‘, ternyata cukup mujarab bagi Ujang Nana untuk berkembang, cukup mujarab bagi dia terutama saat-saat malas untuk mengaji dan belajar, cukup mujarab bagi dia untuk mengendalikan diri saat godaan-godaan yang menjauhkannya dari aktivitas mengaji dan sekolahnya datang. Ia tumbuh besar dengan kekuatan itu. Ujang Nana mampu menjadi seperti yang diharapkan ibunya, bisa mengaji dan menyelesaikan sekolah sampai tingkat atas, dan bahkan sampai lulus perguruan tinggi. Disela-sela liburan ketika sekolah atas maupun saat kuliah, Ia selalu berkunjung ke Rumah di jakarta, tetapi hasilnya, selalu dia harus membisikkan kedalam ‘telinga hati’-nya harap, “suatu saat nanti…”, karena Bapaknya sudah cukup lama tidak pernah pulang ke Jakarta.
Namun, buah kesabarannya membuahkan hasil, pada kunjungan ke jakarta yang kesekian kali, salah seorang kerabat Bapak-nya menceritakan, bahwa pada suatu waktu ia pernah diajak Bapaknya ke kediamannya. Kemuadian Ia mencoba menjelaskan dan menyampaikan pengalaman perjalannnya. “Bapakmu tinggal di kota ‘X’, dan saya tidak tahu persis alamatnya, tapi kamu dapat menaiki bis… menuju ke…, kemudian angkot …., menuju ke…, kemudian turun di…, kemudian tanya…, tetapi maaf saya tidak dapat mengantar”.
Informasi itu?., ya hanya informasi itu memang yang Ujang Nana dapatkan. Dengan ‘modal nekad’ atau apalah namanya, Ujang Nana bergegas ke tujuan tersebut, menelusuri rute yang didapatkannya tadi. Cukup pelik perjalanannya, dia hanya berbekal rute dan Nama Bapaknya, yang sama sekali tidak pernah terbayangkan perawakan dan raut mukanya.
Di tujuan akhir rute yang diperolehnya, Ujang Nana mulai bertanya perihal rumah tinggal Bapaknya. Dia berjalan menelusuri jalan setapak. Dari jarak tidak begitu jauh, terlihat sebuah rumah sederhana yang mungil, sesuai dengan petunjuk yang Dia dapatkan. Mungil, tetapi rumah itu terlihat cantik. Halaman depan, kiri, dan kanannya ditumbuhi beraneka ragam bunga, sangat terlihat indah. Disekitarnya ditanami pohon singkong, pisang, dan tanaman pertanian lainnya. Tidak jauh dari sana terlihat gunung yang menambah keasrian dan kesejukan daerah itu.
“Sekarang saatnya..!“, rasanya, Ujang Nana ingin beteriak dan bersungkur untuk bersujud syukur, ketika perempuan paruh baya yang menemuinya dan mengatakan bahwa, benar orang yang Dia cari tinggal di rumah itu, dan sekarang lagi dikebun bunga sebelah Selatan rumah. Sambil menunjukkan jarinya ke arah seorang lelaki yang bertopi dan duduk di saung, perempuan itu berucap “itu orangnya.!”. Ujang Nana mengeluarkan butiran bening dimatanya, dadanya terasa sesak, tetapi ia masih mampu mengatakan “Kalo saya langsung menemuinya disana tidak apa-apa bu?”. “Silahkan.!”, jawab perempuan itu.
Entah apa yang dirasakan Ujang Nana ketika itu, susah sekali untuk digambarkan. Yang jelas degup jantungnya semakin kencang dan kembali ia bingung dengan apa yang harus diperbuatnya. Apakah langsung ‘menubruk’ kemudian memeluknya, atau .., atau …, atau, dan atau ….!. Sulit sekali Dia menentukan skenario apa yang harus dilakukan. Langkah kakinya seolah lebih cepat daripada apa yang dia pikirkan. Kenyataannya, dia sudah berada di hadapan Bapak yang selama ini dirindukannya. Cukup kata salam yang dapat dia ucapkan sebagai awal pertemuannya, kemudian memperkenalkan diri “Saya Ujang Nana Pak, Saya dari kota ‘x’, dan Saya adalah anak Bapak..!”. Apa yang dilakukan Bapaknya?, Ia cuma menjawab ‘O iya, silahkan duduk sini Jang.!’. Walapun Ujang Nana, sangat merindukan untuk memeluk dan bersandar dibahu itu, tetapi ia tidak berani melakukannya. Lelaki dihadapannya tetap saja seperti orang lain yang baru dikenal, walapun selama ini dia merindukan dan memimpikannya. Pertemuan itu juga tidak berlangsung lama, hanya beberapa jam saja, karena Ujang Nana harus bergegas kembali menuju kota lain yang cukup jauh dari tempat itu.
Pertemuan kedua, ketiga, dan keempat sudah cukup membuat hubungan Bapak-Anak itu terlihat harmonis. Dari keduanya mulai berani mengungkapkan kerinduannya, saling bercerita dan berbagi, tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Ujang Nana harus meninggalkan ‘Sekarang saatnya’, karena setelah pertemuan keempat atau tidak lebih setahun dari pertemuan pertama, Bapaknya meninggal dunia. Ujang Nana mendapatkan informasi di tempatnya bekerja, dan itupun setelah bapaknya di pembaringan terakhir. Ujang Nana hanya dapat menatap gundukan tanah dan bunga taburan yang masih harum dan belum mengering, menundukkan kepala sambil berdoa, kemudian merenung sambil sesekali juga menatap kayu nisan yang tertancap di pembaringan terakhir itu.
Selamat jalan “suatu saat nanti“, karena “sekarang saatnya” untuk meneruskan dan membangun “masa depan.!” agar kudapatkan “suatu saat nanti-selanjutnya.!. amiin ya rabb.

Sepenggal Janji

Pagi itu, aku terhenyak mendengar berita di televisi. Seorang penata rambut di Bandung telah tega membunuh seorang wanita pelangannya. Alasannya sebenarnya sepele, hanya karena si wanita berjanji ingin menggunakan jasanya dibidang tata rambut, namun janjinya itu tak kunjung ditepati.
Blarr! Malang nian nasibmu, wahai sobat. Sebegitu tingginyakah harga sepenggal janji, hingga maut pun menjadi taruhannya?
Hatiku bergidik ngeri. Sepenggal janji. Hal yang kelihatannya sepele, namun sesungguhnya tidaklah sepele sama sekali. Janji adalah hutang, yang harus dilunasi, sesuai jangka waktu yang telah ditentukan. Mau tak mau pikiranku bekerja keras. Apakah selama ini ada janji yang secara tidak sadar kuucapkan, namun belum jua kutunaikan. Ah. Jangan-jangan diri ini tak sadar telah mengumbar janji dengan begitu ringan, begitu mudah, namun tak jua terlaksana hingga detik ini.
Tiba-tiba aku menjadi amat takut karenanya. Takut kalau-kalau tidak sempat melaksanakan janji hingga ajal menjemput. Na`udzubillah!
Akupun teringat peristiwa sepuluh tahun yang lalu, sewaktu masih berdomisili di negeri di seberang lautan sana, Jepang.
Seperti biasa, pagi itu, aku sedang mengajak anak sulungku, Faisal yang waktu itu baru berusia dua tahun ke koen atau taman bermain. Anak-anak kecil senang bermain di koen, karena tempatnya luas, banyak pohon, dan banyak permainan. Koen juga bagus sebagai tempat bersosialisasi anak-anak balita yang belum bersekolah karena di sini anak dilatih untuk antri menunggu giliran, ataupun meminjamkan mainan kepada temannya.
Hari masih amat pagi, pukul setengah sembilan. Terlalu dini sebenarnya untuk bermain di koen. Biasanya ibu-ibu Jepang membawa anak mereka sekitar pukul sepuluh pagi. Tapi karena ini hari Minggu, suamiku kuajak serta, agar bisa menikmati hari bersama-sama. Dan kami berangkat lebih awal.
Aku menduga belum ada orang di koen selain kami. Tapi ternyata dugaanku salah.
Ada seorang nenek-nenek bersama cucu laki-lakinya.
Karena mereka berada di dekat ayunan dan Faisal ingin bermain ayunan, maka kami melewati mereka. Selesai bermain ayunan, Faisal berhenti di depan anak laki-laki Jepang itu, sebut saja Yoshi. Kutaksir umurnya sekitar empat tahun. Faisal memandangi mainan mobil-mobilan di tangan Yoshi, dan ingin meminjamnya. Aku hanya diam saja, tidak pede karena bahasa Jepangku tidak fasih. Tapi dalam hati ingin sekali meminjamkan mainan itu untuk Faisal. Suamiku pun diam saja, tampaknya sungkan untuk meminjam.
Untungnya si Nenek cepat tanggap.
“Yoshi, ayo pinjemin mainannya sama adik kecil ini!” pinta si Nenek, tentunya dalam bahasa Jepang.
Yoshi hanya diam.
“Yoshi, ayo pinjemin!” bujuk si Nenek masih sabar.
Bocah itu masih bergeming, makin erat mencengkeram mainan itu.
“Yoshi! Uchi de yakusoku desho!” suara si Nenek mulai meninggi, tapi berusaha menekan suaranya.
Maksudnya tadi di rumah Yoshi telah berjanji kepada neneknya untuk meminjamkan mainan kepada anak-anak di koen. Dan si Nenek menagih janji Yoshi. Tapi Yoshi tetap menggeleng. Tampaknya antara Nenek dan cucu sama-sama kekeuh.
“Yoshi! Yakusoku desho! Y a k u s o k u !” Si Nenek masih bersikeras menagih janji Yoshi dengan menekankan kata `yakusoku`. Tampak mulai tidak sabaran, tapi berusaha untuk tidak marah.
Melihat adegan itu, sebenarnya dalam hati aku heran, mengapa si Nenek begitu kekeuhnya menagih janji Yoshi. Bukankah dia masih anak-anak? Apakah perlu sekeras itu menagih janji kepada anak-anak? Walaupun disisi lain, aku juga salut dengan keteguhan hati si Nenek dalam mempertahankan prinsip. Janji adalah janji, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sekali terucap, pantang mengelak. Janji ibarat komitmen, yang telah disepakati bersama, dan harus dipegang teguh dan ditaati. Mengabaikan janji berarti mengabaikan komitmen. Aku salut bahwa di negeri yang mayoritasnya non muslim ini, ternyata prinsip-prinsip untuk tetap konsisten dalam menepati janji telah ditanamkan sedari usia dini.
Akhirnya setelah didesak sekian lama, dengan setengah terpaksa, Yoshi menyerahkan mobil-mobilan itu kepada Faisal.
Akupun bernafas lega. Kulihat senyum di bibir Faisal.
Ah! Sepenggal janji. Hanya sepenggal janji. Tapi begitu besar efeknya.
"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : kalau berbicara dia bohong, kalau berjanji dia mengingkari dan kalau dipercaya dia berkhianat "(HR Bukhari dan Muslim).
Catatan kaki :
Yakusoku : janji
Koen : taman bermain
Keukeuh : bersikeras

Ada Hikmah dibalik Penghinaan

Ada saat saat dalam pergaulan, kau mungkin merasa direndahkan, merasa terhina atau merasa diremehkan karena kedudukan, status sosial atau jenis pekerjaan. Lalu kau merasa direndahkan sedemikian rupa hingga kau merasa dikucilkan atau merasa tak dianggap sama sekali atau bahkan tak "diorangkan" oleh orang lain, sabarlah dan ucapkan Alhamdulillah !
Loh gimana sih, Lagi dihina orang kok alhamdulillah ? Ya, karena pada saat kau merasa dihina atau memang betul-betul dihina atau bahkan mungkin di caci maki dihadapan orang banyak, katakan "alhamdulillah" mengapa ? Karena pada saat itu sedang terjadi transfer yang luar biasa cepatnya, dimana pahalamu sedang bertambah dari orang yang menghinamu, sedangkan dosa-dosamu sedang diambil orang yang sedang menghinamu. Nah bukankah itu membahagiakan, mendapat pahala gratis dan terhapus dosamu tanpa usaha.
Susah memang pada awalnya, dihina kok alhamdulillah ? Yang jelas tak perlu merasa terhina saat dihina orang lain, karena orang yang mudah menghina orang lain adalah bukan orang yang mulia. Jangan-jangan lebih hina dari orang yang sedang dihina. Lagi pula Dia dalam firmanNya mengatakan " Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain ( karena ) boleh jadi mereka ( yang diolok-olokan ) lebih baik dari mereka yang mengolok-olokan " (QS 49:11) Jelas sekali kan firmanNya itu. Jadi mengapa perlu bersedih atau sakit hati bila dihina orang lain ? Lagi pula hinaan itu ibarat kawah candradimuka, hati itu digodok sedemikian rupa, agar tak mudah goyah, tabah dan sabar. Jadilah ilalang yang diinjak-injak orang masih tetap hidup atau jadilah seperti baja yang makin di tempa, makin di palu makin kuat.
Kita sudah sama-sama mengetahui bahwa orang yang mulia sangat menghargai orang lain dan mudah memaafkan orang lain yang bersalah kepadanya. Jika terjadi sebalikknya itulah orang yang hina. Memang dalam kehidupan, orang begitu merasa sakit di hati bila mendapat penghinaan dari orang lain, sampai-sampai mungkin tidak bisa tidur karenanya, boleh jadi menimbulkan dendam yang membara hingga ada niat untuk membalas rasa sakit hati tersebut pada orang yang telah menghinannya.
Namun bila dihadapi dengan hati yang jernih, saat di hina, justru "alhamdulillah" karena saat itulah kita dapat mengetahui kualitas akhlak orang lain, saat itulah kita dapat mengetahui siapa sesungguhnya orang yang sedang menghina itu. Dan boleh jadi saat di hina kita segera dapat mengintropeksi diri, jangan-jangan kita memang pantas untuk dihina, karena kelakuan, perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika memang hinaan itu benar, kata "alhamdulillah"pun masih tepat, karena secara tidak langsung, orang yang sedang menghina itu telah menunjuki kesalahan kita.
Alhamdulillah, ada "konsultan" gratis yang tanpa diminta telah menunjukan kesalahan kita. Dengan demikian, kita akan segera memperbaiki diri. Nah bukankah hinaan itu membawa hikmah ? Nah bukankah kalau kita mendapat hikmah, kita bersyukur ? Sedangkan kata yang paling tepat untuk bersyukur adalah alhamdulillah.
Kata alhamdulillah kelihatanya sederhana, namun mengadung makna yang luar biasa. Bila saat di hina atau merasa dikucilkan saja sudah mampu mengucapkan alhmdulillah, apa lagi bila mendapat rejeki, pujian atau mendapat sesuatu yang baik, sudah sepantasnya kita mengucapkan kata "alhamdulillah", segala puji bagi Allah, kita kembalikan pujian tersebut kepada Allah SWT, karena memang Dialah yang pantas mendapat pujian !

Rencana Indah Dari Allah

Pernahkah kita kecewa terhadap suatu hal?
Pernahkah kita sedih terhadap takdir Allah kepada kita?
Pernahkah terbersit di hati kita bahwa Allah tidak sayang pada kita karena Dia tidak mengabulkan permohonan kita?
Sedih dan kecewa adalah suatu hal yang wajar bila kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Tapi tahukah kalian bila "Seberapapun indahnya mimpi kita... Jauh lebih indah rencana Allah untuk kita". Tahukah kalian bila Allah mengabulkan doa hamba-Nya dengan 3 cara; yang pertama Allah menjawab YA dan langsung mengabulkan apa yang kita pinta, kedua, Allah berkata TIDAK karena Allah akan memberikan hal yang jauh lebih baik dari yang kita pinta, dan terakhir, Allah berkata TUNGGU DULU, karena saat ini bukan saat yang tepat untuk dikabulkannya permintaan kita, Allah tahu saat yang terbaik untuk mengabulkannya.
Sejak awal SMA, saya sudah bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Saya benar-benar ingin menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta. Saya belajar keras supaya tembus SPMB di universitas impian. Tetapi Allah berkata lain. FKUI bukan tempat saya. Allah menempatkan saya di pilihan kedua, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya.
Kecewa? pasti. Sedih? tentu saja. Orang tua dan teman-teman di sekitar saya berkata bahwa saya harus tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk mencicipi nikmatnya bangku kuliah. Masih bisa lulus SPMB di Fakultas Kedokteran dan universitas negeri lagi. Saya berusaha berpikir realistis bahwa saya masih termasuk orang yang amat sangat beruntung. Walaupun begitu, di sudut hati saya tersisa sebuah kekecewaan. Karena impian saya selama 3 tahun dibangku SMA tidak terwujud. Terbersit rasa iri bila melihat teman-teman saya dengan bangganya memamerkan "jaket kuning" mereka. Saya akui, mungkin ketika itu saya termasuk orang yang kurang bersyukur. Tetapi seberapapun kerasnya berusaha, rasanya susah sekali menghilangkan rasa kecewa di hati saya.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai menerima keberadaan saya di FK Unair. Saya pun mulai bermimpi lagi. Melihat kesuksesan seorang kakak kelas menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional (MawapresNas), saya pun tergerak untuk mengikuti jejak beliau. Saya berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang baik dalam pelajaran, mengikuti berbagai macam organisasi kemahasiswaan dan juga mengikuti banyak kompetisi karya tulis ilmiah. Walaupun saya bukan yang terbaik dalam kelas di bidang pelajaran dan sering mencuri-curi waktu dari padatnya perkuliahan FK untuk aktif di berbagai organisasi, juga sering kali kalah dalam kompetisi, tapi saya tidak menyerah. Saya berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi mawapresnas.
Tapi...lagi-lagi Allah berkata lain. Mawapresnas bukan jalan saya. Bahkan langkah saya hanya terhenti sebagai juara 3 mawapres tingkat fakultas. Lagi-lagi saya merasa kecewa. Saya merasa semua kerja keras saya sia-sia. Seberapa pun saya berusaha, saya tidak akan pernah dapat mewujudkan impian saya.
Namun, di tengah-tengah keterpurukan itu Allah memberikan hadiah yang tak terduga. Sebuah hal yang tak pernah terbersit sekalipun di benak saya. Dengan karunia dan izin dari Allah saya mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri selama 2 tahun untuk meraih gelar research master dari salah satu universitas ternama di Eropa.
Saya terhenyak. Bila saya tidak masuk FK Unair mungkin saya tidak akan bisa merasakan kuliah di luar negeri gratis. Bila saya lolos mawapresnas, mungkin saya tidak mendapatkan kesempatan mengikuti beasiswa ini. Subhanallah..Maha suci Engkau ya Allah yang telah merencanakan jalan yang indah dibalik semua ini. Jujur, bila saya berpikir realistis, masih banyak teman saya yang lebih layak untuk mendapatkan beasiswa ini. Masih banyak orang yang jauh lebih pintar dari saya. Masih banyak orang yang lebih jago berbahasa Inggris. Masih banyak orang yang lebih berprestasi dari saya.
Tapi bila Allah sudah berkehendak, maka tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa menghentikannya. Akhirnya Tanggal 7 agustus 2009 seorang anak manusia yang bernama Yelvi Levani pergi meninggalkan Indonesia menuju sebuah negeri baru, negeri impian untuk menuntut ilmu, negeri Belanda.
Allah pasti selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Walaupun di awal kita merasa kenyataan apa yang kita hadapi jauh dari hal yang kita impikan. Tapi percayalah, "Seberapapun indahnya mimpi kita... Jauh lebih indah rencana Allah untuk kita".
Kuliah di luar negeri bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah awal dalam meraih mimpi-mimpi selanjutnya. Tentu saja pasti akan banyak kesulitan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Tapi Allah tidak akan membebani seorang hamba diluar kemampuan hamba-Nya.
Saya terdiam dan teringat bahwa seorang saudari pernah berkata kepada saya. Apa yang saya hadapi setimpal dengan apa yang saya didapatkan. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Termasuk beasiswa ini. Saya harus bekerja keras sebagai bayaran atas beasiswa studi negeri ini.Tidak semua orang mendapatkan kesempatan kuliah di luar negeri GRATIS. Betapa pun sulitnya rintangan yang dihadapi saya harus yakin, semua rencana Allah selalu indah, tidak ada namanya kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah SWT.
Allah tidak pernah tidur. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah kerja keras. karena Allah pasti akan memberikan rezeki kepada kita dari arah yang tidak disangka-sangka. Oleh karena itu, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. "Apa-apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah, dan apa-apa yang menurut kita tidak baik, belum tentu tidak baik bagi Allah. Manusia tidak punya pengetahuan tentangnya. Tapi Allah maha tahu segalanya"
Mimpi saya terinspirasi dari banyak orang, dan saya berharap semoga sedikit cerita dari saya juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.